INDODAX Ingatkan Pengguna: Keamanan Aset Kripto Kini Bergantung pada Kesadaran Digital
Jakarta – Perkembangan teknologi keamanan digital terus meningkat, namun ancaman terhadap aset kripto kini tidak hanya berasal dari serangan sistem. Pelaku kejahatan siber mulai mengincar faktor manusia melalui berbagai modus penipuan digital seperti social engineering, phishing, hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Chief Information Security Officer (CISO) INDODAX, Ledy, mengatakan perubahan pola ancaman tersebut membuat pengguna aset digital harus lebih waspada dalam menjaga keamanan akun dan informasi pribadi.
Menurutnya, pelaku kejahatan siber saat ini tidak selalu berupaya menembus sistem keamanan, tetapi lebih sering memanfaatkan kelengahan pengguna untuk memperoleh akses melalui manipulasi informasi.
“Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem. Padahal, dalam beberapa kasus, pelaku justru mendapatkan akses karena pengguna tanpa sadar memberikan informasi penting atau mengikuti tautan yang menyerupai layanan resmi,” ujar Ledy dalam diskusi bertajuk Beyond Code: The Human Side of Crypto Security yang digelar INDODAX.
Dalam forum yang mengangkat tema “Security Starts With You” tersebut, INDODAX membahas pentingnya peran pengguna dalam menjaga keamanan aset digital bersama komunitas kripto, pengembang blockchain, dan pelaku industri.
Ledy menjelaskan, kemajuan teknologi artificial intelligence (AI) turut membuat modus penipuan digital semakin berkembang. Pelaku kini dapat memanfaatkan teknologi seperti deepfake, voice cloning, iklan palsu di media sosial, hingga penyamaran sebagai layanan pelanggan resmi.
“Perkembangan AI membuat berbagai modus penipuan terlihat semakin meyakinkan. Karena itu masyarakat perlu membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum mempercayai informasi yang diterima,” katanya.
Ia menambahkan, pengguna juga perlu menerapkan kebiasaan keamanan digital seperti menjaga data pribadi, tidak mudah memberikan kode rahasia, serta memastikan informasi berasal dari kanal resmi.
Terkait layanan pelanggan, INDODAX mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap pihak yang mengatasnamakan perusahaan melalui aplikasi pesan instan.
“INDODAX tidak memiliki nomor WhatsApp Customer Support resmi. Seluruh layanan hanya tersedia melalui kanal resmi perusahaan. Pengguna perlu melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan,” jelas Ledy.
Menurutnya, keamanan aset kripto bukan hanya menjadi tanggung jawab penyedia platform, tetapi juga membutuhkan kesadaran pengguna dalam menerapkan perilaku digital yang aman.
“Platform dapat menyediakan berbagai lapisan keamanan, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan pengguna. Karena itu, edukasi dan kewaspadaan menjadi bagian penting dalam melindungi aset digital,” tuturnya.
INDODAX menilai peningkatan literasi keamanan digital harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi. Pemahaman mengenai ancaman seperti phishing, social engineering, deepfake, dan penyalahgunaan identitas digital menjadi langkah penting untuk menciptakan ekosistem aset kripto yang lebih aman.
Sebagai salah satu perusahaan penyedia layanan aset kripto di Indonesia, INDODAX terus memperkuat sistem keamanan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat beraktivitas di dunia digital secara lebih aman, bijak, dan bertanggung jawab.
(Red)
